Senin, 24 Juni 2013

Pendapat Para Filsuf: Estetika Sesudah Kant

  1. Schiller : Seni adalah kegiatan dan permainan. Letak keindahan ialah pada pertemuan antara ruh dan alam, materi dan forma.
  2. Schelling : seni bukan sekedar alat filsafat, tetapi sumber yang sesungguhnya.
  3. Hegel : keindahan adalah idea yang terwujud dalam indera. Materi seni tak lain adalah idea, sedangkan formanya terdapat dalam gambaran inderawi dan khayalinya.
  4. Schopenhouer : keindahan memiliki 2 segi ; membebaskan kita dari kemauan dan mengisi pikiran kita dengan suatu gagasan. Seni paling tinggi adalah musik karena menyenangkan tetapi tidak dapat dinyatakan. Sedangkan seni paling rendah adalah arsitektur.

Rabu, 12 Juni 2013

Aliran-aliran Seni Rupa Modern



1. Aliran Neo-Klasikisme
Ciri-cirinya Lukisan Neo-Klasikisme :
a.       Lukisan terikat pada norma-norma intelektual akademis.
b.      Bentuk selalu seimbang dan harmonis.
c.       Batasan-batasan warna bersifat bersih dan statis.
d.      Berisi cerita lingkungan istana dan cenderung dilebih-lebihkan.
Tokoh Neo-Klasik adalah J.L. David dan Jean Auguast Dominique Ingres (1780-1867)

2. Aliran Romantisme
Ciri-ciri aliran Romantis sebagai berikut :
a.       Lukisan mengandung cerita yang dahsyat dan emosional.
b.      Warna bersifat kontras dan meriah dan pengaturan komposisi dinamis.
c.       Mengandung kegetiran dan menyentuh perasaan.
d.      Kedahsyatan melebihi kenyataan.
Tokoh-tokhnya antara lain : Eugene Delacroix, Theodore Gericault, Jean Baptiste, Jean Francois Millet

3. Aliran Realisme
Realisme merupakan aliran yang memandang dunia tanpa ilusi, selalu melukiskan apa saja yang dijumpainya tanpa pandang bulu dan tanpa ada idealisasi, distorsi atau pengolahan-pengolahan lainnya. Tokoh : Gustave Courbet, Jean Francois, Millet dan Honore Daumier.

4. Aliran Naturalisme
Aliran Naturalisme adalah aliran yang berusaha untuk melukiskan keadaan alam, khususnya dari aspek yang menarik, sehingga lukisan Naturalisme selalu bertemakan keindahan alam dan isinya. Tokohnya antara lain Thomas Gainsbrough (1727-1788), John Constable, William Hogart, Frans Hall.

5. Aliran Impresionisme
Impresionisme adalah aliran lukisan yang impresif, yaitu lukisan yang agak kabur dan tidak mendetail, biasanya tidak mempunyai kontur yang jelas dan nampak hanya efek-efek warna yang membentuk wujud tertentu dan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, karena melukis dilakukan di luar studio. Tokohnya : Eduard Manet, Claude Monet,Auguste Renoir, Edward Degas dan Mary Cassat.

6. Aliran Ekspresionisme
 Ekspresionisme merupakan aliran yang melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan ke arah suasana kesedihan, kekerasan ataupun tekanan batin. Tokohnya adalah Vincent Van Gogh, Paul Klee, Emile Nolde, W . Kandinsky, Vincent Van Gogh, Edvard Munch, Paul Cezanne, Paul Gauguin, Emil Nolde dan di Indonesia yaitu Affandi.

7. Aliran Fauvisme
Nama fauvisme berasal dari bahas Prancis “Les Fauves”, yang artinya binatang liar. Aliran fauvisme sangat mengagungkan kebebasan berekspresi, sehingga banyak objek lukisan yang dibuat kontras dengan aslinya seperti pohon berwana oranye/jingga atau lainnya. Pelukis fauvisme cenderung melukis apa yang mereka sukai tanpa memikirkan isi dan arti dari sebuah lukisan yang dibuat. Tokoh-tokohnya : Henr Y. Matisse, Andre Derain, Maurice de Vlaminc.

8. Aliran Kubisme
Lukisan kubisme mengedepankan bentuk-bentuk geometris. Tokoh kubisme yang sangat terkenal adalah Picasso dan Paul Cezanne, tetapi di samping kedua tokoh ini masih banyak tokoh lain yg menganut Kubisme seperti Juan Gris dll.

9. Aliran Abstraksionisme
Aliran Abstraksionime adalah aliran yg berusaha melepaskan diri dari sensasi-sensasi atau asosiasis figuratif suatu obyek. Aliran Abstraksionis di bedakan menjadi dua yaitu:
1.       Abstrak kubistis : Yaitu abstrak dalam bentuk geometrik murni seperti lingkaran kubus dan segi tiga. Tokoh aliraran ini berasal dari Rusia yaitu Malivich [1913].
2.       Abstrak Nonfiguratif : Yaitu abstrak dalam arti seni lukis haruslah murni sebagai ugkapan perasaan, di mana garis mewakili garis ,warna mewakili warna dan sebagainya. Bentuk alami ditinggalkan sama sekali. Tokohnya adalah Wassily kadinsky, Naum Goba.

10. Aliran dadaisme
Aliran ini mepunyai sikap memerdekakan diri dari hukum-hukum seni yg telah berlaku. Ciri aliran ini sinis, nihil dan berusaha meleyapkan ilusi. Aliran ini dilatar belakangi oleh perang dunia pertama yg tak kunjung berhenti, memberi kesan hilangnya nilai sosial dari nilai estetika di muka bumi, sehinga pandangan dadaisme tidak ada estetika dalam karya seni. Tokoh Dadisme adalah Paul klee, Scwitters Tritan Tzara, Maron Janco dll.

11. Aliran Surealisme.
Aliran surealis banyak di pengaruhi oleh teori analisis psikologis. Sigmund Freud mengenai ketidak sadaran dalam anatomisme dan impian. Surealisme sering tampil tidak logis dan penuh fantasi, seakan-akan melukis dalam mimpi. Tokoh surealis yaitu: Salvador Dali, Maxt Ernest

12. Pop art
Pop Art adalah Populer Art. Yang dimaksudkan bukan seni yang populer melainkan seni yang menggunakan obyek/ benda yang populer sebagai subject-matter, dan berhubungan dengan imaji kebendaan di lingkungan sehari-hari. Tokoh-tokohnya antara lain : Andy Warhol, Tom Wasselman, George Segal, Yoseph Benys, Claes Oldenburg dan Cristo. Di Indonesia yang menganut aliran ini adalah seniman-seniman yang memproklamirkan diri “Kaum Seni Rupa Baru Indonesia”.

13. Optical art (seni optik)
Istilah Optic atau Retinal Art diterapkan pada karya-karya seni rupa dua dimensional yang sepenuhnya menggali dan memanfaatkan kekeliruan mata.

14. Kinetic art (seni kinetik)
Kinetic Art adalah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti seni gerak. Tokoh-tokohnya : Jackson Pollock, Max Bill, Tatlin, Rodchenko, dan Calder.

15. Minimal art (seni minimal)
Seni Minimal merupakan bentuk seni yang kontroversial, karena sulit untuk dimengerti, sehingga selalu mendapat kritik keras dari kalangan kritikus. Prinsip utamanya adalah bahwa tidak ekspresi seniman, tetapi media dan bahan kerja yang realitasnya. Dengan kata lain: sebuah karya seni tidak harus mengacu pada apa pun selain dirinya sendiri. Seni Minimal muncul sebagai tren di akhir 1950-an dan berkembang terutama di tahun 1960-an dan 1970-an. Hal ini juga disebut sebagai seni ABC, seni literal, literalisme, reductivism, dan seni rejective.

Sumber:
indrayuliansyah07.blogspot.com/2012/10/aliran-seni-rupa.html
awakendreamer.tumblr.com/post/20709778479/aliran-seni-lukis
http://id.wikipedia.org/wiki/Op_art

Kamis, 25 April 2013

AL-QURAN DAN KESEHATAN JIWA (Part 1)

Copy paste from : http://luaydpk.wordpress.com/2011/07/24/al-quran-dan-kesehatan-jiwa/

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi manusia. Walaupun kitab ini menggunakan bahasa Arab, dan pada awal perkembangan Islam diturunkan pada masyarakat Arab. Tidak berarti wahyu Allah itu hanya untuk kalangan tertentu, bangsa Arab. Namun, ia bersifat universal risalahnya, yaitu untuk semua manusia, apapun ras, bangsa dan bahasanya.
Al-Qur’an sendiri menegaskan bahwa ia tidak diturunkan hanya untuk masyarakat Arab,  tetapi juga untuk seluruh umat manusia. (QS 2: 185) Oleh karena itu Rasulullah SAW berpesan kepada mereka yang mempercayai Al-Qur’an sebagai wahyu Allah untuk mempelajari dan mengajarkannya.
ﺨﻴﺮﻜﻡﻣﻦﺗﻌﻠﻡﺍﻠﻗﺭﺍﻦﻮﻋﻠﻤﻪ
 “Sebaik-baik di antaramu yaitu yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhari).
Pada zaman modern sekarang ini, ketika hubungan antarbangsa semakin meningkat dan terbuka, tidak tertutup kemungkinan orang-orang non-muslim pun mempelajari kitab Al-Qur’an. Walau tentu saja tujuan mereka mempelajarinya berbeda dengan tujuan kaum muslim. Tujuan mereka ada yang semata-mata ilmiah dan juga sengaja ingin merusak aqidah umat Islam, sedangkan kaum muslim mempunyai tujuan untuk memahami dan mengamalkannya.
Dilihat dari sejarahnya Al-Qur’an diturunkan pada masyarakat Arab Jahiliyah. Pada zaman ini masyarakat Arab hidup dalam kegelapan, yaitu suatu kehidupan tanpa cahaya iman. Dalam situasi demikian yang berlaku dalam mengatur kehidupan adalah hukum rimba, yang kuat menjadi pemimpin dan yang lemah menjadi budak. Benda-benda dijadikan sebagai Tuhan dan anak perempuan dianggap tidak berharga. Mereka ibarat layang-layang yang terputus, tak mepunyai arah dan tujuan. Dapat dikatakan bahwa orang-orang Jahiliyah itu hanya sibuk mengurus dunia, atau sebagai penganut materialisme, sedangkan ruhaninya gersang.
Karena itu, tepat sekali Al-Qur’an diturunkan pada saat masyarakat mengalami kemerosotan akhlak. Dalam keadaan demikian kitab ini menjadi petunjuk dan sebagai obat penawar kegersangan ruhani. Masyarakat Jahiliyah seperti pasien yang sakit yang butuh pertolongan dokter, namun yang sakit bukan jasmaninya melainkan ruhaninya atau jiwanya. Allah berfirman dalam kitab-Nya:
Hai seluruh manusia, sesungguhnya telah datang kepada kamu pengajaran dari Tuhan kamu dan obat bagi apa yang terdapat dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang mukmin ”. (QS Yunus: 57)
Abdullah Yusuf Ali, dalam menafsirkan ayat ini mengatakan, bahwa “obat penyakit hati keimanan, lebih berharga daripada keuntungan duniawi (materi), kekayaan.” (Yusuf Ali, h. 499) Dan memang, kata Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah mengatakan bahwa, “Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah obat bagi apa yang terdapat dalam dada. Penyebutan kata dada yang diartikan dengan hati, menunjukkan bahwa wahyu-wahyu Ilahi itu berfungsi menyembuhkan penyakit-penyakit ruhani seperti ragu, dengki, takabur dan semacamnya.” (vol. 6, h. 102)
Dalam ayat lain yang berhubungan dengan ayat sebelumnya:
Dan (sedangkan) Kami menurunkan Al-Qur’an sebagai obat penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ia tidaklah menambah kepada orang-orang yang dhalim selain kerugian. ”(QS Al-Isra: 82)
Mengenai obat penawar telah disinggung di muka, dan tentang rahmat Allah Quraish Shihab mengatakan bahwa, “Ayat ini membatasi rahmat Al-Qur’an untuk orang-orang mukmin, karena merekalah yang paling berhak menerimanya sekaligus paling banyak memperolehnya. Akan tetapi ini bukan berarti bahwa selain mereka tidak memperoleh walau secercah dari rahmat akibat kehadiran Al-Qur’an.” (Tafsir Al-Mishbah, vol. 7, h. 533)
“Tidak ragu lagi bahwa dalam Al-Qur’an terdapat kekuatan spiritual yang luar biasa dan mempunyai pengaruh mendalam atas diri manusia. Ia membangkitkan pikiran, menggelorakan perasaan, dan menajamkan wawasan.  Dan manusia yang berada di bawah pengaruh Al-Qur’an ini seakan menjadi manusia baru yang diciptakan kembali.” Demikian dikatakan oleh Dr. M ‘Utsman Najati dalam bukunya Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa. Kita dapat membandingkan dalam sejarah umat manusia, bagaimana masyarkata Arab sebelum dan sesudah datangnya Islam. Sebelum datangnya Islam mereka hidup dalam kegelapan, namun setelah Islam, kehidupan mereka berubah sama sekali. Dari masyarakat nomad dan bersuku-suku mereka mampu membangun peradaban Islam yang maju, hingga dapat menandingi imperium besar, Persia dan Romawi.
Atas keberhasilan itu Michael Hert menempatkan nabi Muhammad SAW pada rangking pertama dari seratus tokoh yang berpengaruh di dunia. Itulah kekuatan spiritual Al-Qur’an.
Bukan saja secara spiritual, namun juga ia sebagai obat secara fisik. Seperti diceritakan oleh Ibnul Qoyyim, bahwa suatu ketika beberapa sahabat Nabi SAW sampai di suatu perkampungan Arab. Ketika itu kepala dusun tersengat ular berbisa, dan belum juga mendapat obat. Lalu beberapa dari mereka meminta sahabat Nabi untuk mengobatinya. Salah seorang musafir tersebut membaca suratal-Fatihah  sampai selesai, dan orang itupun sembuh. Ketika bertemu dengan Rasulullah peristiwa ini diceritakan para sahabat. Beliau berkata, “ Adakah yang memberi tahu kepadamu bahwa Al-Fatihah itu “ruqyah” (obat dengan jampi-jampi)? Engkau telah dengan tepat melakukannya. …”(Ibnul Qoyyim, h. 18-19 ).
Al-Qur’an adalah obat penawar dan rahmat bagi kaum beriman. Karena itu, jiwa-jiwa kaum beriman tidak mengalami gangguan jiwa. Terjadinya gangguan jiwa karena kehidupan manusia, terutama manusia modern saat ini, tidak seimbang. Padahal hidup manusia harus seimbang antara kehidupan duniawi (materi) dan kebutuhan akan ketenangan jiwa (ruhani). Dengan keseimbangan itu, maka jiwa manusia akan sehat. Jadi, kita sebagai muslim harus mau mempelajarinya dengan membaca, memahami dan mengamalkannya serta merenungkan apa yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an dan Hadits Nabi sebagai penjelas, harus kita baca, pahami, renungkan dan aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu ‘alam bishawwab.

Raden Ajeng Kartini

Sebuah tulisan yang saya copy paste dari selembar artikel yang baru saja aku dapatkan dari kegiatan Pentas Seni dalam rangka Peringatan Hari Kartini
PKM Fakultas Bahasa dan Seni, 25 April 2013


Tanpa Pond*s, maka mukamu tak cerah lagi
Dan mereka akan enggan menatapmu

Tanpa Pan*tene, maka rambutmu tak indah lagi
Dan tak ada yang ingin membelaimu

Tanpa Bellagi*o, maka tubuhmu tak wangi lagi
Dan tak ada yang ingin mendekatimu

Tanpa baju bermerek, maka kau tak akan keren lagi
Dan mereka melabelimu cupu

Tanpa sepetu model terbaru, maka kau tak percaya diri untuk melangkah lagi
Dan mereka enggan berjalan denganmu

Tanpa membeli, tanpa belanja, maka kau tak akan gembira lagi
Dan bagaimana hidupmu lepas dari kontrolmu

Maka,
Belajarlah terus sampai kita mampus . . . . . .

R.R (Bukan Raden Roro)

Dan sebuah geguritan tentang Wanita,

Wanita
Anggitanipun : Azzahra E'geng

Wanita
jarene wani ditata
ora papa. yen ditata tan ala
Nanging jaman wis beda
wanita ora mung ditata
nanging kudu bisa nata

Bayangna
Saka wanita bisa ndadekake
Pangeran Diponegoro, Soekarno,
lan Susilo Bambang Yudhoyono
Ing mburi kana, mesthi ana wanita
Wanita kang duwe digdaya

Gereya wis ketara
yen tanpa wanita
kepriye omonge donya?

Minggu, 21 April 2013

ESTETIKA KLASIK DOGMATIS (PART 2)

ARISTOTELES
  • Aristoteles adalah murid Plato
  • Berbeda dengan Plato, Aristoteles menolak idea-idea sebagai sumber pengetahuan dan adanya pengetahuan
  • Keindahan menurut Aristoteles menyangkut keteraturan dan keseimbangan ukuran material, berlaku pada benda-benda alam dan karya seni

Karya seni, menurut Aristoteles:
  1. Sastra dan drama harus dinilai sebagai tiruan dunia alamiah dan dunia manusia.
  2. Bukan sekedar tiruan belaka tetapi seharusnya memiliki filsafi (bersifat dan bernada universal), unsur yang khas manusiawi, seolah-olah berlaku pada seluruh masa dan tempat.
  3. Karya seni sebagai symbol makna harus ditemukan dan dikenali berdasar pengalaman.

Syarat karya seni:
  1. Karya tersebut mampu menimbulkan “katharsis” (pemurnian), kathoros (murni, bersih). Maksudnya puncak dan tujuan karya seni (drama-tragedi) terjadi spontan dalam proses penikmatan.
  2. Sebagai pemahaman lebih mendalam tentang manusia, pembebasan batin/ pengalaman, penderitaan.
  3. Fungsi karya seni sebagai terapeutik dari segi kejiwaan. Ada unsure penyesalan, perubahan, pertaubatan, religius.

PLOTINOS
  • Plotinos dikenal dengan filsafatnya tentang pengaliran (emanasi) semua hal dari Yang Esa kembali ke Yang Esa lagi.
  • Platinos menolak pandangan Stoa tentang simetri dan menganggapnya tidak perlu. Yang membuat karya seni indah bukan warna, nada, bentuk, yang murni homogen. Sebaliknya, pengalaman akan keindahan justru terbentu kalau ada persatuan antara pelbagai  bagian yang berbeda satu sama lain (heterogenitas).
  • Platinos mendekatkan pengalaman estetis dengan pengalaman religius, bahkan puncak perkembangannya disebut dengan pengalaman mistik.
  • Menurut Platinos, seni bukan berarti melengkapi keindahan alam melainkan interaksi seniman dengan alam di sekitarnya dan karya seni terjadi melalui tangannya.

AGUSTINUS

  • Agustinus cukup dipengruhi Neoplatoisme. Sumber keindahan menurut Agustinus adalah kesatuan.
  • Menurut Agustinus, pengamatan mengenai keindahan mengandaiakan danmemuat suatu penilaian. Agar mampu mengamati kedua-duanya, kita memerlukan idea tentang “keteraturan ideal” yang hanya kita terima lewat Terang Ilahi. Pandangan ini sesuai dengan paham “iluminisme” Agustinus, yang menilai rendah kemampuan manusia.
  • Keteraturan ideal betul-betul ada dalam apa yang diamati manusia. Yang hadir dalam objek yang indah itu, dan yang dapat kita bedakan berkat Terang Ilahi itu ialah “splendor ordinis”, artinya gemilangnya keteraturan.

THOMAS AQUINAS

  • Keindahan berkaitan denagn pengetahuan. Di samping tekanan pada pegetahuan, yang paling mencolok adalah peranan subjek dalam keindahan.
  • Keindahan harus mencakup tiga kualitas, yaitu: integritas atau kelengkapan, proporsi atau keselarasan yang benar, dan kecemerlangan. Keindahan tejadi jika pengarahan subjek muncul lewat kontemplasi atau pengetahuan inderawi.
  • Secara umum, gagasan Thomas merupakan rangkuman segala unsur filsafat keindahan yang sebelumnya dihargai. Dengan menunjukkan peranan dan rasa subjek dalam proses tejadinya keindahan, Thomas mengemukakan sesuatu yang baru. Peranan subjek sebenarnya sudah diangkat juga dalam teori Aritoteles tentang drama. Aristoteles dan Thomas menggarisbawahi betapa pentignya pengetahuan dan pengalaman yang terjadi dalam diri manusia.

NILAI KARYA SENI



1.    Nilai Seni : Pengertian, Fungsi, dan Jenis-jenisnya
Kata atau istilah nilai sesungguhnya bukan sesuatu yang bersifat kuantitatif atau menunjuk pada sesuatu yang bersifat konkret, melainkan menunjuk pada sesuatu yang bersifat kualitatif dan abstrak. Nilai dalam bahasan ini bukan score atau biji, yang berfungsi sebagai angka yang menandai prestasi seseorang seperti yang tertera pada raport atau laporan hasil belajar, melainkan harga atau sifat-sifat/ hal-hal yang penting atau berguna bagi manusia (KBBI; 1996: 690). The Liang Gie menjelaskan bahwa istilah nilai sering dipakai sebagai suatu kata benda yang benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). Dengan demikian nilai atau value dapat dipahami sebagai suatu keadaan atau sifat yang menunjukkan kualitas yang berharga bagi kehidupan manusia.
Pada dasarnya, nilai berfungsi untuk mengatur/mengendalikan (to control), mengarahkan (to direct), to guide (menuntun), to rearrange (menyusun kembali) tindakan seseorang. Sistem nilai mempengaruhi kepribadian seseorang. Contohnya adalah kewajiban memakai jilbab bagi seorang muslim karena diatur oleh nilai-nilai agama. Nilai bersifat relatif bergantung pada konteksnya. Nilai juga mampu mengendalikan seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu/ menghindari sesuatu. Misalnya merokok. Walaupun merokok tidak baik bagi kesehatan, namun bagi sebagian orang, rokok dianggap sebagai kebutuhan primer dan sangat berharga bagi kehidupan mereka. Disinilah relativitas nilai terjadi.
Dilihat dari pandangan filsafat ada empat macam jenis nilai, yaitu nilai logika (kebenaran), nilai etika (kebaikan), nilai keindahan (estetika), dan nilai kekudusan (agama).
2.    Nilai dalam Karya Seni
a.    Nilai Intrinsik
Nilai intrinsik karya seni berarti nilai yang ada di dalam karya seni. Nilai intrinsik karya seni adalah nilai perbentukan fisik dari suatu karya, yaitu kualitas atau sifat dari perbentukan fisik yang menimbulkan rasa atau kesan indah. Aspek fisik yang terdapat pada nilai intrinsik karya seni meliputi unsur-unsur rupa seperti: garis, bidang, warna, gelap terang, ruang, dan tekstur.
Struktur atau susunan unsur-unsur tersebut akan menentukan kualitas keindahan fisik suatu karya seni rupa jika ditata sedemikian rupa dengan prinsip kesatuan, irama, keseimbangan, proporsi, dominasi, variasi, dan harmoni.

b.    Nilai Ekstrinsik
Nilai ekstrinsik karya seni berarti nilai yang ada di luar karya seni, sehingga yang dimaksud adalah kualitas atau harga yang berada di luar suatu perwujudan fisik. Nilai ini dapat pula disebut dengan nilai simbolis yang memiliki makna, pesan, atau harapan-harapan di luar bentuk fisiknya itu.

c.    Nilai Instrumental
Dalam konteks seni rupa, suatu karya dapat dikatakan memiliki nilai instrumental jika karya tersebut secara fisik dapat digunakan untuk melakukan tugas dalam rangka memenuhi kebutuhan. Sebagai contoh, nilai instrumental karya seni dapat ditunjukkan pada hasil karya desain peralatan elektronika, seperti kamera, hand-phone, dan komputer (note book). Barang-barang tersebut selain desainnya bagus dan ukurannya yang bersifat portable, juga semakin canggih kegunaannya dalam memenuhi kebutuhan pemakainya. Semakin praktis, mudah, dan nyaman penggunaan alat-alat tersebut, maka semakin tinggi nilai-nilai instrumentalnya.