Senin, 12 Januari 2015

Ketika Mantan Presiden Berdialog dalam Sebuah Lukisan


Judul              : Mencari Pembenaran (on progress)
Media             : Acrylic on canvas
Ukuran           : 200 x 140 cm
Tahun            : 2014


Kokoh Nugroho adalah salah satu seniman muda asal Kota Semarang yang karyanya patut diacungi jempol. Beliau menekuni bidang kontemporer. Kokoh Nugroho telah mengenal seni sejak lahir. Almarhum ayahnya adalah seorang pemusik. Sedangkan ibunya adalah penyanyi. Kokoh Nugroho memang menyukai gambar sejak kecil, namun kemampuan melukisnya ia asah ketika masih berkuliah di jurusan seni rupa IKIP Semarang.

Deskripsi Karya

Karya lukis yang dibuat oleh Kokoh Nugroho pada tahun 2014 ini berkesan klasik. Kokoh Nugroho memilih perpaduan warna-warna coklat pada lukisannya yang satu ini. Karya lukis ini menampilkan tokoh-tokoh pemimpin bangsa Indonesia di masa lalu yang “duduk” bersama. Para pemimpin bangsa tersebut seakan sedang berdialog mengenai masa kepemimpinannya di masa lalu saat mereka masih memimpin. Media yang digunakan adalah cat akrilik di atas kanvas berukuran 200 x 140cm.

Analisis Karya

Kokoh Nugroho menggunakan pendekatan realistis dalam karya ini.  Kesan yang ditonjolkan adalah sosok-sosok pemimpin bangsa Indonesia. Subjek-subjek yang ditampilkan digambarkan secara proporsional. Pada background, terkesan lebih sederhana. Sedangkan, keeseimbangan yang ditampilkan adalah asimetris.

Interpretasi Karya

Karya ini merupakan respon dari sebuah teks cerpen yang berjudul "Dialog Mantan Presiden". Para mantan presiden tersebut saling mencari kebenaran selama masa kepemimpinannya. Masing-masing presiden saling merasa yang paling baik dan benar, merasa mempunyai jasa besar paling besar selama memimpin. Mereka pun saling mengolok-olok masa kepemimpinan presiden periode berikutnya. Para presiden tersebut berdialog di alam baka, hal ini terlihat dari para presiden yang divisualisasikan telanjang.

Penilaian

Karya lukis ini dilahirkan oleh seorang pelukis muda yang telah berpengalaman. Kokoh Nugroho telah menghasilkan banyak karya yang mengkritisi dunia politik dan sosial di Indonesia. Kokoh Nugroho menyajikan lukisannya dalam nuansa yang unik. Karya-karyanya berbeda dari seniman kebanyakan. Tema yang sering diangkat adalah tema sosial, kontemplasi, kerusakan alam, dan politik.

Karya-karya lain dari Kokoh Nugroho dapat dilihat pada akun facebook pribadinya Kokoh Nugroho


Minggu, 04 Januari 2015

STORY OF US

Oleh: Anita Pamela

Dua seniman muda asal Kota Surakarta, Olga Rindang Amesti dan Robet Bayu Prabowo sukses menggelar pameran visual art bertajuk “STORY OF US” di Art and Coffee Gobleg, yang beralamat di Jl. Raya Banaran Blok B No. 1B (depan gerbang UNNES sebelah Barat), Gunungpati, Semarang pada 6 sampai 11 Desember 2014 lalu.


Pameran yang dimeriahkan oleh performance dari SERABI ini dibuka pada pukul 19.00 WIB. Dalam pameran ini, Olga dan Robet mengajak pengunjung hadir dalam “catatan” harian mereka. Olga dan Robet memunculkan imajinasi mereka melalui simbol visual berupa semacam boneka. Bagi mereka, boneka dianggap sudah pas untuk memenuhi kebutuhan artistik dalam berkarya visual karena boneka  dapat “dimainkan” bentuk, komposisi, serta warnanya saat berkarya.



Nama Olga Rindang Amesti sendiri tidaklah asing. Olga merupakan salah satu seniman yang pada pergelaran ARTJOG|14 mendapat penghargaan sebagai Young Artist Award Art Jog 2014. Kala itu, Olga juga memamerkan bonekanya, Mind and Boxes yang berbicara tentang kondisi politik Indonesia.


Foto pengunjung pameran

Menurut seorng pengunjung, Karisha, karya yang mereka pamerkan unik dan menarik serta mampu membangkitkan imajinasi masa kecil tentang boneka.


Foto Olga dan Robet (tengah) beserta pengunjung, diunduh dari facebook


Senin, 24 Juni 2013

Pendapat Para Filsuf: Estetika Sesudah Kant

  1. Schiller : Seni adalah kegiatan dan permainan. Letak keindahan ialah pada pertemuan antara ruh dan alam, materi dan forma.
  2. Schelling : seni bukan sekedar alat filsafat, tetapi sumber yang sesungguhnya.
  3. Hegel : keindahan adalah idea yang terwujud dalam indera. Materi seni tak lain adalah idea, sedangkan formanya terdapat dalam gambaran inderawi dan khayalinya.
  4. Schopenhouer : keindahan memiliki 2 segi ; membebaskan kita dari kemauan dan mengisi pikiran kita dengan suatu gagasan. Seni paling tinggi adalah musik karena menyenangkan tetapi tidak dapat dinyatakan. Sedangkan seni paling rendah adalah arsitektur.

Rabu, 12 Juni 2013

Aliran-aliran Seni Rupa Modern



1. Aliran Neo-Klasikisme
Ciri-cirinya Lukisan Neo-Klasikisme :
a.       Lukisan terikat pada norma-norma intelektual akademis.
b.      Bentuk selalu seimbang dan harmonis.
c.       Batasan-batasan warna bersifat bersih dan statis.
d.      Berisi cerita lingkungan istana dan cenderung dilebih-lebihkan.
Tokoh Neo-Klasik adalah J.L. David dan Jean Auguast Dominique Ingres (1780-1867)

2. Aliran Romantisme
Ciri-ciri aliran Romantis sebagai berikut :
a.       Lukisan mengandung cerita yang dahsyat dan emosional.
b.      Warna bersifat kontras dan meriah dan pengaturan komposisi dinamis.
c.       Mengandung kegetiran dan menyentuh perasaan.
d.      Kedahsyatan melebihi kenyataan.
Tokoh-tokhnya antara lain : Eugene Delacroix, Theodore Gericault, Jean Baptiste, Jean Francois Millet

3. Aliran Realisme
Realisme merupakan aliran yang memandang dunia tanpa ilusi, selalu melukiskan apa saja yang dijumpainya tanpa pandang bulu dan tanpa ada idealisasi, distorsi atau pengolahan-pengolahan lainnya. Tokoh : Gustave Courbet, Jean Francois, Millet dan Honore Daumier.

4. Aliran Naturalisme
Aliran Naturalisme adalah aliran yang berusaha untuk melukiskan keadaan alam, khususnya dari aspek yang menarik, sehingga lukisan Naturalisme selalu bertemakan keindahan alam dan isinya. Tokohnya antara lain Thomas Gainsbrough (1727-1788), John Constable, William Hogart, Frans Hall.

5. Aliran Impresionisme
Impresionisme adalah aliran lukisan yang impresif, yaitu lukisan yang agak kabur dan tidak mendetail, biasanya tidak mempunyai kontur yang jelas dan nampak hanya efek-efek warna yang membentuk wujud tertentu dan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca, karena melukis dilakukan di luar studio. Tokohnya : Eduard Manet, Claude Monet,Auguste Renoir, Edward Degas dan Mary Cassat.

6. Aliran Ekspresionisme
 Ekspresionisme merupakan aliran yang melukiskan aktualitas yang sudah didistorsikan ke arah suasana kesedihan, kekerasan ataupun tekanan batin. Tokohnya adalah Vincent Van Gogh, Paul Klee, Emile Nolde, W . Kandinsky, Vincent Van Gogh, Edvard Munch, Paul Cezanne, Paul Gauguin, Emil Nolde dan di Indonesia yaitu Affandi.

7. Aliran Fauvisme
Nama fauvisme berasal dari bahas Prancis “Les Fauves”, yang artinya binatang liar. Aliran fauvisme sangat mengagungkan kebebasan berekspresi, sehingga banyak objek lukisan yang dibuat kontras dengan aslinya seperti pohon berwana oranye/jingga atau lainnya. Pelukis fauvisme cenderung melukis apa yang mereka sukai tanpa memikirkan isi dan arti dari sebuah lukisan yang dibuat. Tokoh-tokohnya : Henr Y. Matisse, Andre Derain, Maurice de Vlaminc.

8. Aliran Kubisme
Lukisan kubisme mengedepankan bentuk-bentuk geometris. Tokoh kubisme yang sangat terkenal adalah Picasso dan Paul Cezanne, tetapi di samping kedua tokoh ini masih banyak tokoh lain yg menganut Kubisme seperti Juan Gris dll.

9. Aliran Abstraksionisme
Aliran Abstraksionime adalah aliran yg berusaha melepaskan diri dari sensasi-sensasi atau asosiasis figuratif suatu obyek. Aliran Abstraksionis di bedakan menjadi dua yaitu:
1.       Abstrak kubistis : Yaitu abstrak dalam bentuk geometrik murni seperti lingkaran kubus dan segi tiga. Tokoh aliraran ini berasal dari Rusia yaitu Malivich [1913].
2.       Abstrak Nonfiguratif : Yaitu abstrak dalam arti seni lukis haruslah murni sebagai ugkapan perasaan, di mana garis mewakili garis ,warna mewakili warna dan sebagainya. Bentuk alami ditinggalkan sama sekali. Tokohnya adalah Wassily kadinsky, Naum Goba.

10. Aliran dadaisme
Aliran ini mepunyai sikap memerdekakan diri dari hukum-hukum seni yg telah berlaku. Ciri aliran ini sinis, nihil dan berusaha meleyapkan ilusi. Aliran ini dilatar belakangi oleh perang dunia pertama yg tak kunjung berhenti, memberi kesan hilangnya nilai sosial dari nilai estetika di muka bumi, sehinga pandangan dadaisme tidak ada estetika dalam karya seni. Tokoh Dadisme adalah Paul klee, Scwitters Tritan Tzara, Maron Janco dll.

11. Aliran Surealisme.
Aliran surealis banyak di pengaruhi oleh teori analisis psikologis. Sigmund Freud mengenai ketidak sadaran dalam anatomisme dan impian. Surealisme sering tampil tidak logis dan penuh fantasi, seakan-akan melukis dalam mimpi. Tokoh surealis yaitu: Salvador Dali, Maxt Ernest

12. Pop art
Pop Art adalah Populer Art. Yang dimaksudkan bukan seni yang populer melainkan seni yang menggunakan obyek/ benda yang populer sebagai subject-matter, dan berhubungan dengan imaji kebendaan di lingkungan sehari-hari. Tokoh-tokohnya antara lain : Andy Warhol, Tom Wasselman, George Segal, Yoseph Benys, Claes Oldenburg dan Cristo. Di Indonesia yang menganut aliran ini adalah seniman-seniman yang memproklamirkan diri “Kaum Seni Rupa Baru Indonesia”.

13. Optical art (seni optik)
Istilah Optic atau Retinal Art diterapkan pada karya-karya seni rupa dua dimensional yang sepenuhnya menggali dan memanfaatkan kekeliruan mata.

14. Kinetic art (seni kinetik)
Kinetic Art adalah istilah dalam bahasa Inggris yang berarti seni gerak. Tokoh-tokohnya : Jackson Pollock, Max Bill, Tatlin, Rodchenko, dan Calder.

15. Minimal art (seni minimal)
Seni Minimal merupakan bentuk seni yang kontroversial, karena sulit untuk dimengerti, sehingga selalu mendapat kritik keras dari kalangan kritikus. Prinsip utamanya adalah bahwa tidak ekspresi seniman, tetapi media dan bahan kerja yang realitasnya. Dengan kata lain: sebuah karya seni tidak harus mengacu pada apa pun selain dirinya sendiri. Seni Minimal muncul sebagai tren di akhir 1950-an dan berkembang terutama di tahun 1960-an dan 1970-an. Hal ini juga disebut sebagai seni ABC, seni literal, literalisme, reductivism, dan seni rejective.

Sumber:
indrayuliansyah07.blogspot.com/2012/10/aliran-seni-rupa.html
awakendreamer.tumblr.com/post/20709778479/aliran-seni-lukis
http://id.wikipedia.org/wiki/Op_art

Minggu, 21 April 2013

ESTETIKA KLASIK DOGMATIS (PART 2)

ARISTOTELES
  • Aristoteles adalah murid Plato
  • Berbeda dengan Plato, Aristoteles menolak idea-idea sebagai sumber pengetahuan dan adanya pengetahuan
  • Keindahan menurut Aristoteles menyangkut keteraturan dan keseimbangan ukuran material, berlaku pada benda-benda alam dan karya seni

Karya seni, menurut Aristoteles:
  1. Sastra dan drama harus dinilai sebagai tiruan dunia alamiah dan dunia manusia.
  2. Bukan sekedar tiruan belaka tetapi seharusnya memiliki filsafi (bersifat dan bernada universal), unsur yang khas manusiawi, seolah-olah berlaku pada seluruh masa dan tempat.
  3. Karya seni sebagai symbol makna harus ditemukan dan dikenali berdasar pengalaman.

Syarat karya seni:
  1. Karya tersebut mampu menimbulkan “katharsis” (pemurnian), kathoros (murni, bersih). Maksudnya puncak dan tujuan karya seni (drama-tragedi) terjadi spontan dalam proses penikmatan.
  2. Sebagai pemahaman lebih mendalam tentang manusia, pembebasan batin/ pengalaman, penderitaan.
  3. Fungsi karya seni sebagai terapeutik dari segi kejiwaan. Ada unsure penyesalan, perubahan, pertaubatan, religius.

PLOTINOS
  • Plotinos dikenal dengan filsafatnya tentang pengaliran (emanasi) semua hal dari Yang Esa kembali ke Yang Esa lagi.
  • Platinos menolak pandangan Stoa tentang simetri dan menganggapnya tidak perlu. Yang membuat karya seni indah bukan warna, nada, bentuk, yang murni homogen. Sebaliknya, pengalaman akan keindahan justru terbentu kalau ada persatuan antara pelbagai  bagian yang berbeda satu sama lain (heterogenitas).
  • Platinos mendekatkan pengalaman estetis dengan pengalaman religius, bahkan puncak perkembangannya disebut dengan pengalaman mistik.
  • Menurut Platinos, seni bukan berarti melengkapi keindahan alam melainkan interaksi seniman dengan alam di sekitarnya dan karya seni terjadi melalui tangannya.

AGUSTINUS

  • Agustinus cukup dipengruhi Neoplatoisme. Sumber keindahan menurut Agustinus adalah kesatuan.
  • Menurut Agustinus, pengamatan mengenai keindahan mengandaiakan danmemuat suatu penilaian. Agar mampu mengamati kedua-duanya, kita memerlukan idea tentang “keteraturan ideal” yang hanya kita terima lewat Terang Ilahi. Pandangan ini sesuai dengan paham “iluminisme” Agustinus, yang menilai rendah kemampuan manusia.
  • Keteraturan ideal betul-betul ada dalam apa yang diamati manusia. Yang hadir dalam objek yang indah itu, dan yang dapat kita bedakan berkat Terang Ilahi itu ialah “splendor ordinis”, artinya gemilangnya keteraturan.

THOMAS AQUINAS

  • Keindahan berkaitan denagn pengetahuan. Di samping tekanan pada pegetahuan, yang paling mencolok adalah peranan subjek dalam keindahan.
  • Keindahan harus mencakup tiga kualitas, yaitu: integritas atau kelengkapan, proporsi atau keselarasan yang benar, dan kecemerlangan. Keindahan tejadi jika pengarahan subjek muncul lewat kontemplasi atau pengetahuan inderawi.
  • Secara umum, gagasan Thomas merupakan rangkuman segala unsur filsafat keindahan yang sebelumnya dihargai. Dengan menunjukkan peranan dan rasa subjek dalam proses tejadinya keindahan, Thomas mengemukakan sesuatu yang baru. Peranan subjek sebenarnya sudah diangkat juga dalam teori Aritoteles tentang drama. Aristoteles dan Thomas menggarisbawahi betapa pentignya pengetahuan dan pengalaman yang terjadi dalam diri manusia.

NILAI KARYA SENI



1.    Nilai Seni : Pengertian, Fungsi, dan Jenis-jenisnya
Kata atau istilah nilai sesungguhnya bukan sesuatu yang bersifat kuantitatif atau menunjuk pada sesuatu yang bersifat konkret, melainkan menunjuk pada sesuatu yang bersifat kualitatif dan abstrak. Nilai dalam bahasan ini bukan score atau biji, yang berfungsi sebagai angka yang menandai prestasi seseorang seperti yang tertera pada raport atau laporan hasil belajar, melainkan harga atau sifat-sifat/ hal-hal yang penting atau berguna bagi manusia (KBBI; 1996: 690). The Liang Gie menjelaskan bahwa istilah nilai sering dipakai sebagai suatu kata benda yang benda abstrak yang berarti keberhargaan (worth) atau kebaikan (goodness). Dengan demikian nilai atau value dapat dipahami sebagai suatu keadaan atau sifat yang menunjukkan kualitas yang berharga bagi kehidupan manusia.
Pada dasarnya, nilai berfungsi untuk mengatur/mengendalikan (to control), mengarahkan (to direct), to guide (menuntun), to rearrange (menyusun kembali) tindakan seseorang. Sistem nilai mempengaruhi kepribadian seseorang. Contohnya adalah kewajiban memakai jilbab bagi seorang muslim karena diatur oleh nilai-nilai agama. Nilai bersifat relatif bergantung pada konteksnya. Nilai juga mampu mengendalikan seseorang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu/ menghindari sesuatu. Misalnya merokok. Walaupun merokok tidak baik bagi kesehatan, namun bagi sebagian orang, rokok dianggap sebagai kebutuhan primer dan sangat berharga bagi kehidupan mereka. Disinilah relativitas nilai terjadi.
Dilihat dari pandangan filsafat ada empat macam jenis nilai, yaitu nilai logika (kebenaran), nilai etika (kebaikan), nilai keindahan (estetika), dan nilai kekudusan (agama).
2.    Nilai dalam Karya Seni
a.    Nilai Intrinsik
Nilai intrinsik karya seni berarti nilai yang ada di dalam karya seni. Nilai intrinsik karya seni adalah nilai perbentukan fisik dari suatu karya, yaitu kualitas atau sifat dari perbentukan fisik yang menimbulkan rasa atau kesan indah. Aspek fisik yang terdapat pada nilai intrinsik karya seni meliputi unsur-unsur rupa seperti: garis, bidang, warna, gelap terang, ruang, dan tekstur.
Struktur atau susunan unsur-unsur tersebut akan menentukan kualitas keindahan fisik suatu karya seni rupa jika ditata sedemikian rupa dengan prinsip kesatuan, irama, keseimbangan, proporsi, dominasi, variasi, dan harmoni.

b.    Nilai Ekstrinsik
Nilai ekstrinsik karya seni berarti nilai yang ada di luar karya seni, sehingga yang dimaksud adalah kualitas atau harga yang berada di luar suatu perwujudan fisik. Nilai ini dapat pula disebut dengan nilai simbolis yang memiliki makna, pesan, atau harapan-harapan di luar bentuk fisiknya itu.

c.    Nilai Instrumental
Dalam konteks seni rupa, suatu karya dapat dikatakan memiliki nilai instrumental jika karya tersebut secara fisik dapat digunakan untuk melakukan tugas dalam rangka memenuhi kebutuhan. Sebagai contoh, nilai instrumental karya seni dapat ditunjukkan pada hasil karya desain peralatan elektronika, seperti kamera, hand-phone, dan komputer (note book). Barang-barang tersebut selain desainnya bagus dan ukurannya yang bersifat portable, juga semakin canggih kegunaannya dalam memenuhi kebutuhan pemakainya. Semakin praktis, mudah, dan nyaman penggunaan alat-alat tersebut, maka semakin tinggi nilai-nilai instrumentalnya.

Persoalan dalam Estetika

Persoalan pokok estetika :
  1. Nilai Estetika (esthetic value)
  2. Pengalaman Estetis (estethic experience)
  3. Pelaku seni (seniman / artist)
  4. Seni (karya seni)

Persoalan yang berkaitan dengan filsafat seni / estetika modern :

  1. Penggolongan sistematika seni
  2. Morfologi estetis, yaitu hal yang berkaitan dengan bentuk dan gaya seni
  3. Teori sejarah seni, yaitu pengaruh-pengaruh, sebab-akibat, dan gaya seni yang berkaitan dengan faktor budaya
  4. Sosiologi seni, yaitu hal yang berkaitan dengan karya seni dengan kondisi sosial masyarakat
  5. Semiologi seni, yaitu hal yang berkaitan dengan masalah bahasa seni berupa tanda, simbol, dan konsep-konsep dalam seni
    Ragam dan gaya seni, yaitu hal yang berkaitan dengan sifat dasar manusia, pribadi dan sosial
  6. Pengetahuan tentang jenis akibat yang cenderung mempengaruhi manusia dalam berbagai kondisi